Banyak keretakan yang kita hadapi dalam kehidupan sosial kita, dan terkadang retaknya itu tidak selalu terdengar seperti bunyi genting yang jatuh dari atap rumah tua. Ia sering hadir sebagai percakapan biasa antara seorang ayah dan anaknya. Sebagai perdebatan di ruang tamu. Sebagai tatapan yang saling menghindar ketika sebuah keluarga hendak berangkat ke tahlilan.
Dalam suasana seperti itulah drama Di Pangkuan Guru Tua dituliskan.
Drama ini tidak sedang berbicara tentang tahlilan. Tidak juga semata-mata berbicara tentang bid’ah, maulid, atau dalil. Semua itu hanyalah pintu masuk menuju persoalan yang lebih besar yaitu krisis hubungan manusia dengan akar kebudayaannya sendiri.
Tokoh Miqdam adalah representasi generasi yang lahir di tengah ledakan informasi. Ia belajar agama melalui berbagai sumber baru. Ia memperoleh keyakinan yang memberinya rasa pasti. Namun justru di tengah kepastian itu, ia kehilangan sesuatu yang sama urgennya dengan dalil. Pengalaman kolektif.
Miqdam bukan tokoh antagonis. Ia adalah anak zaman.
Ia tidak sedang membenci tradisi. Ia sedang berusaha memahami dunia dengan perangkat yang baru ia temukan. Sebab itu pergulatannya terasa manusiawi. Ia mempertanyakan tahlilan, bukan karena kebencian, melainkan karena keyakinan bahwa agama harus kembali kepada kemurnian.
Namun justru di titik itulah tragedi dimulai.
Sebab manusia tidak hidup hanya dengan teks. Ia juga hidup dengan kenangan.
Dalam naskah ini, Bapak dan Ibu hadir sebagai penjaga ingatan. Mereka tidak menawarkan argumentasi akademik yang rumit. Mereka berbicara tentang rasa. Tentang kebersamaan. Tentang hubungan keluarga. Tentang bagaimana sebuah tradisi menjadi rumah bagi orang-orang yang sedang berduka.
Di sini, saya sebagai penulis sedang mengajukan satu pertanyaan penting, “Apakah agama cukup dipahami sebagai kumpulan hukum, ataukah ia juga merupakan pengalaman kemanusiaan ? “
Pertanyaan tersebut membuat drama ini bergerak melampaui ruang perdebatan fikih. Ia memasuki wilayah antropologi, kebudayaan, bahkan filsafat keberadaan manusia.
Ketika Bapak mengatakan bahwa hidup tidak hanya soal dalil tetapi juga soal rasa, sesungguhnya yang sedang dipertahankan bukan sekadar tahlilan. Yang sedang dipertahankan adalah memori sosial yang membuat sebuah komunitas tetap hidup.
Karena tradisi bukan hanya tindakan.
Tradisi adalah cara sebuah masyarakat mengingat dirinya sendiri.
Tokoh paling menarik dalam drama ini bukan Bapak, bukan pula Miqdam.
Tokoh yang paling penting justru adalah Guru Tua.
Menariknya, Guru Tua tidak pernah benar-benar hadir di atas panggung. Ia hanya hadir sebagai foto, sebagai nama, sebagai bayangan, sebagai ingatan.
Tetapi justru karena ketidakhadirannya itulah ia menjadi sangat kuat.
Guru Tua berfungsi sebagai simbol peradaban.
Ia mewakili generasi ulama yang tidak sekadar mengajarkan hukum-hukum agama, melainkan membangun ekosistem sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Ia menjadi lambang dari warisan yang perlahan mulai dipertanyakan oleh generasi baru.
Dalam sebuah teori, tokoh semacam ini sering disebut sebagai “absent presence”, ketidakhadiran yang justru mendominasi seluruh narasi.
Seluruh konflik drama sebenarnya berlangsung di sekitar sosok yang tidak pernah berbicara.
Dan itu membuat Guru Tua menjadi tokoh paling dramatis dalam naskah ini.
Secara struktural, drama ini dibangun sebagai perjalanan kesadaran.
Babak-babak awal menghadirkan konflik eksternal antara Miqdam dan keluarganya.
Namun perlahan konflik bergeser menjadi konflik internal.
Pertempuran sesungguhnya tidak terjadi antara Miqdam dan ayahnya.
Pertempuran sesungguhnya terjadi di dalam diri Miqdam.
Puncaknya tampak dalam monolog panjang pada babak ketujuh.
Di sana Miqdam mulai menyadari bahwa persoalan yang ia hadapi bukan lagi soal benar dan salah. Ia mulai memahami kemungkinan bahwa yang hilang bukan tradisi itu sendiri, melainkan kemampuan generasinya untuk memahami jiwa tradisi.
Monolog tersebut merupakan bagian paling kuat dari keseluruhan naskah karena menghadirkan transformasi kesadaran tokoh.
Miqdam tidak berubah karena kalah berdebat.
Ia berubah karena mulai belajar meragukan kepastian dirinya sendiri.
Dan dalam sejarah pemikiran manusia, setiap kebijaksanaan selalu dimulai dari keraguan terhadap kesombongan intelektual.
Dari sudut kajian kebudayaan, Di Pangkuan Guru Tua sesungguhnya adalah naskah tentang krisis pewarisan.
Generasi muda hari ini hidup di tengah dunia digital yang membuat pengetahuan bergerak lebih cepat daripada pengalaman.
Mereka mengenal banyak hal, tetapi sering tidak mengenal akar tempat mereka berpijak.
Akibatnya lahirlah paradoks.
Semakin banyak informasi diperoleh, semakin rapuh hubungan dengan memori kolektif.
Drama ini ingin menangkap gejala tersebut dengan jernih.
Miqdam menjadi simbol generasi yang mengalami keterputusan budaya. Sedangkan Guru Tua menjadi simbol tradisi keislaman yang berusaha dipertahankan agar tidak hilang ditelan zaman.
Karena itu, membaca naskah ini sesungguhnya sama dengan membaca wajah masyarakat kita hari ini.
Pada akhirnya, Di Pangkuan Guru Tua tidak menawarkan kemenangan siapa pun.
Tidak ada pihak yang menang.
Tidak ada pihak kalah.
Yang ditawarkan adalah jembatan.
Dan mungkin itulah bagian paling penting dari naskah ini.
Di tengah dunia yang semakin gemar mengkotak-kotakkan manusia ke dalam kubu-kubu yang saling meniadakan, drama ini justru mengajukan kemungkinan dialog.
Bahwa tradisi tidak harus memusuhi pembaruan.
Bahwa pembaruan tidak harus menghancurkan tradisi.
Bahwa masa depan mungkin bukan soal memilih salah satunya, melainkan menemukan titik perjumpaan di antara keduanya.
Maka sesungguhnya judul Di Pangkuan Guru Tua bukan hanya menunjuk kepada seorang ulama.
Ia menunjuk kepada sebuah peradaban yang sedang bertanya kepada anak-anaknya :
masihkah kalian mengenali pangkuan tempat kalian pertama kali belajar menjadi manusia?

