Mereka Yang Pulang dengan Umur Berkurang

Jam dinding di kamar kontrakan itu selalu terlambat tujuh menit. Tidak ada yang pernah memperbaikinya. Barangkali karena tujuh menit terlalu kecil untuk dianggap masalah, seperti hidup orang miskin yang kehilangan sedikit demi sedikit umurnya setiap hari.

Pukul dua dini hari, Jamal masih terjaga.

Di luar, hujan mengguyur seng-seng warung yang tutup lebih cepat sejak orang-orang mulai menjual waktu hidup mereka. Kota memang belum mati, tetapi tampak seperti seseorang yang terlalu lama kurang tidur.

Jamal memandangi layar ponselnya.

Aplikasi itu berwarna biru pucat.

Namanya: SisaUsia.

Di bawah logo berbentuk jam pasir, tertulis slogan:

“Ubah Waktumu Menjadi Masa Depan.”

Ia tertawa kecil membaca kalimat itu. Masa depan siapa?

Di sudut layar, angka menunjukkan:

Usia biologis Anda: 27 tahun.
Sisa potensi hidup: 41 tahun 3 bulan.
Nilai tukar hari ini: 8 jam = Rp350.000

Ibunya batuk dari balik tirai.

Batuk yang terdengar seperti kain tua diperas berkali-kali.

“Belum tidur, Mal?”

“Belum, Bu.”

“Kamu kerja besok.”

Jamal tidak menjawab. Ia sedang memikirkan apakah delapan jam hidup cukup untuk membeli obat ibunya selama seminggu.

Orang-orang sekarang tidak lagi bilang kerja lembur.

Mereka bilang:
“jual waktu.”

Awalnya semua tampak seperti inovasi teknologi biasa.

Pemerintah belum mengakui aplikasi itu legal, tetapi tidak pernah juga melarangnya. Seperti rokok tanpa bea cukai, pinjaman online yang tak diawasi Otoritas Jasa Keuangan, atau janji kampanye yang jarang ditepati.

Katanya, aplikasi itu bekerja dengan teknologi neurologis mutakhir. Gelang kecil ditempelkan di pergelangan tangan, lalu sistem membaca energi biologis manusia. Mengambil sebagian “cadangan umur”, dan mengubahnya menjadi kredit uang tunai.

Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada darah.

Hanya sedikit pusing.

Namun beberapa bulan kemudian, para penjual waktu mulai tampak berbeda.

Tukang ojek online berumur tiga puluh tahun tiba-tiba berambut putih.

Kasir minimarket berusia dua puluh empat tampak seperti empat puluh lima.

Kuli pelabuhan menjadi cepat bungkuk.

Mereka berjalan pelan seperti sedang membawa tubuh orang lain.

Tetapi kebutuhan hidup lebih cepat datang daripada rasa takut.

Dan rasa lapar selalu lebih meyakinkan daripada teori konspirasi.

Jamal pertama kali menjual delapan jam hidupnya ketika ayahnya meninggal.

Bukan untuk biaya pemakaman.

Ayahnya terlalu miskin untuk dimakamkan mahal-mahal.

Uang itu dipakai membeli sebidang tanah kuburan yang bahkan tidak layak untuk mengebumikan jenazah manusia. Ia lebih mirip rawa yang dikeringkan setengah hati.

Setelah transaksi pertama, Jamal muntah di kamar mandi.

Bukan karena sakit.

Melainkan karena ia merasa baru saja menjual sesuatu yang tidak terlihat tetapi sangat pribadi.

Seperti menjual mimpi masa kecil.

Seperti menggadaikan masa depan anak yang belum lahir.

Pagi harinya, ia menemukan dua helai rambut putih di dekat telinga.

Ia mencabutnya sambil tertawa.

Sekarang, dua tahun kemudian, hampir separuh rambutnya berubah abu-abu.

Ia belum tiga puluh.

Di warung kopi dekat terminal, orang-orang membicarakan umur seperti membicarakan pulsa.

“Gue tinggal dua puluh tahunan lagi.”

“Ah, masih banyak.”

“Banyak apaan? Cicilan motor aja tujuh tahun.”

Mereka tertawa.

Tawa yang terdengar terlalu keras untuk sesuatu yang sebenarnya menakutkan.

Televisi di pojok warung menayangkan iklan.

Seorang perempuan cantik mengenakan blazer putih berkata sambil tersenyum:

“Dengan SisaUsia, Anda tetap bisa produktif tanpa membebani keluarga.”

Produktif.

Kata itu sekarang terdengar menyeramkan.

Jamal memesan kopi sachet paling murah.

Di meja sebelah, seorang lelaki tua berkata pelan:

“Dulu orang miskin menjual tenaga.”

Ia mengaduk kopi tanpa gula.

“Sekarang menjual umur.”

Tidak ada yang menanggapi.

Sebab semua orang tahu itu benar.

Di kota itu mulai muncul istilah baru:

Orang Cepat Tua.

Mereka mudah dikenali.

Kulit keriput sebelum waktunya. Mata cekung. Langkah lambat. Nafas pendek.

Sebagian besar bekerja di sektor informal seperti pengemudi, buruh angkut, penjaga parkir, kurir, pekerja gudang.

Sementara orang-orang kaya justru membeli teknologi perpanjangan usia.

Vitamin regeneratif.

Terapi genetik.

Tidur kriogenik. Bahkan kelas private Yoga premium.

Mereka hidup seperti menabung waktu.

Yang miskin hidup seperti mencicil kematian.

Di halte bus, Jamal pernah melihat poster besar yang bertuliskan

“Kelola umur Anda dengan bijak.”

Di bawahnya, seorang pengemis tertidur sambil memeluk lutut.

Usianya mungkin empat puluh.

Wajahnya tampak tujuh puluh.

Suatu malam, Jamal mendapat pekerjaan mengantar paket ke kawasan elit di pinggir kota.

Rumah-rumah di sana sunyi seperti museum.

Pohon-pohon dipangkas terlalu rapi.

Udara bahkan terasa mahal.

Penerima paket itu seorang lelaki berumur sekitar enam puluh tahun, tetapi wajahnya tampak tiga puluh lima.

Kulitnya licin seperti lilin aroma therapy yang baru di unboxing.

“Malam,” katanya.

Jamal menyerahkan paket.

Lelaki itu memperhatikan wajah Jamal cukup lama.

“Kamu pengguna SisaUsia?”

Jamal diam.

“Kelihatan dari mata kamu.”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak kenapa.”

Lelaki itu tersenyum tipis.

“Aku investor awal perusahaan itu.”

Jamal mendadak merasa tenggorokannya kering.

Di ruang belakang rumah itu, ia melihat pesta kecil.

Orang-orang tertawa sambil minum anggur.

Muda.

Terlalu muda untuk usia mereka.

Lelaki itu berkata lagi:

“Dunia selalu begitu. Yang punya uang membeli waktu. Yang tidak punya, menjualnya.”

Kalimat itu diucapkan biasa saja. Seperti seseorang membicarakan cuaca.

Jamal ingin memukul wajahnya.

Tetapi ia hanya berdiri sambil menggenggam helm terlalu keras.

“Saya permisi.”

“Kerja bagus.”

Pintu tertutup perlahan.

Dan untuk pertama kalinya, Jamal merasa dirinya benar-benar miskin.

Bukan karena tidak punya uang.

Melainkan karena tubuhnya sendiri tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Ibunya sakit semakin parah.

Dokter bilang paru-parunya rusak.

Biaya perawatan naik.

Harga hidup memang selalu naik.

Harga kematian lebih murah.

Malam itu Jamal membuka aplikasi lagi.

Saldo rekening tinggal seratus delapan puluh ribu.

Tagihan obat dua juta lebih.

Layar ponsel memantulkan wajahnya sendiri.

Tua.

Sangat tua.

Ia memilih menu:

Jual Waktu Sekarang

Pilihan muncul:

  • 8 jam
  • 24 jam
  • 1 minggu
  • 1 bulan

Tangannya gemetar.

Lalu terdengar suara ibunya dari dalam kamar.

“Jamal?”

“Iya, Bu.”

“Kamu jangan jual umur lagi.”

Ia membeku.

Ibunya keluar sambil membawa inhaler.

Perempuan itu tampak kurus seperti bayangan sendiri.

“Ibu tahu.”

“Siapa bilang?”

“Ibu bisa lihat wajah kamu.”

Hujan turun lebih deras.

Untuk beberapa saat hanya ada suara air dan nafas berat.

“Kalau Ibu mati, jangan ikut mati pelan-pelan.”

Jamal menunduk.

Ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan, yaitu diketahui sedang hancur oleh orang yang paling kita sayangi.

Keesokan harinya, kota gempar.

Seorang kurir ditemukan meninggal di atas motor.

Ponselnya masih menyala.

Aplikasi SisaUsia terbuka.

Saldo rekeningnya bertambah sembilan juta rupiah.

Menurut berita, ia baru saja menjual enam bulan hidup sekaligus.

Enam bulan.

Orang-orang mulai ketakutan.

Tetapi ketakutan tidak pernah cukup kuat untuk mengalahkan kebutuhan hidup.

Besoknya aplikasi itu tetap dipakai jutaan orang.

Diskon makanan masih berlaku.

Tagihan sekolah tetap datang.

Bayi tetap lahir.

Orang miskin tetap harus hidup.

Atau setidaknya mencoba.

Malam terakhir sebelum ibunya dirawat inap, Jamal duduk di depan minimarket dua puluh empat jam.

Lampu kota tampak pucat.

Seorang anak kecil menjual tisu di lampu merah.

Wajah anak itu terlihat letih.

Seperti sudah bekerja terlalu lama untuk seseorang yang bahkan belum mengerti apa itu masa depan.

Jamal membuka aplikasi.

Kali ini tanpa ragu.

Ia memilih:

1 bulan

Notifikasi muncul:

“Terima kasih telah berkontribusi pada ekonomi nasional.”

Ekonomi nasional.

Kalimat itu terdengar lucu sekali.

Ia tertawa.

Lalu menangis.

Tetapi di kota besar, orang menangis tidak pernah terlalu lama. Sebab besok pagi mereka harus kembali bekerja.

Beberapa detik kemudian uang masuk ke rekening.

Jumlahnya cukup besar.

Cukup untuk rumah sakit.

Cukup untuk bertahan.

Mungkin.

Di layar ponsel, angka berubah:

Usia biologis Anda: 43 tahun.

Padahal umur sebenarnya baru dua puluh sembilan.

Ia menatap pantulan wajahnya di kaca minimarket.

Dan tiba-tiba merasa sedang melihat ayahnya sendiri.

Beberapa tahun kemudian, kota dipenuhi orang-orang muda yang tampak tua dan orang-orang tua yang tampak muda.

Tidak ada yang lagi benar-benar bisa menebak usia seseorang.

Anak-anak kecil mulai bercita-cita menjadi influencer umur.

Sekolah mengajarkan literasi finansial tentang pengelolaan usia biologis.

Bank membuka program deposito waktu hidup.

Orang-orang menikah sambil saling bertanya,

“Umur asli atau umur biologis?”

Dan seperti biasa, manusia akhirnya terbiasa dengan segala bentuk horor.

Di halte bus, seorang pemuda menjual delapan jam hidupnya untuk membeli makan malam.

Di trotoar, seorang perempuan menjual dua minggu hidupnya agar anaknya bisa sekolah.

Di televisi, para pejabat berkata ekonomi tumbuh stabil.

Sementara itu, kota perlahan dipenuhi manusia-manusia yang berjalan lebih lambat dari umur mereka.

Kulit mereka mirip kulit jeruk impor.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika hujan turun terlalu lama di atas atap seng dan lampu jalan bergetar seperti nyawa hampir padam, orang-orang akan membuka aplikasi itu dengan tangan gemetar, lalu menjual sedikit lagi hidup mereka untuk bertahan hidup sehari berikutnya.

Karena rupanya, di zaman modern, kemiskinan tidak lagi mengambil tenaga manusia.

Ia mengambil waktu.

Dan waktu, seperti kita tahu, adalah bentuk lain dari umur manusia itu sendiri.

KUA Dolo, Maret 2026