Nyanyian yang Berasal dari Sebutir Kecil

Kita hari ini sering luput menyelami sesuatu yang sesungguhnya amat penting. Kita menyebutnya : makanan. Ia hadir setiap hari di meja makan, mengepul hangat, lalu habis dalam beberapa menit. Tetapi manusia jarang bertanya, dari mana semua itu datang? Berapa banyak tangan yang bekerja? Berapa banyak hujan yang turun? Berapa banyak musim yang harus dilalui sebelum sebutir nasi akhirnya sampai ke mulut manusia?

Di titik itulah Nyanyian Sebutir Kamba berdiri.

Drama ini bukan sekadar kisah tentang padi. Ia adalah renungan tentang kehidupan yang dilihat dari sesuatu yang kecil yaitu sebutir beras bernama Kamba. Dan seperti banyak karya dramatik-puitik, yang kecil justru menjadi jalan masuk untuk memahami yang besar.

Kamba lahir dari sawah. Dari lumpur. Dari air. Dari kerja petani yang diam-diam memelihara kehidupan manusia tanpa banyak disebut dalam pidato pembangunan. Di dalam prolog “Suara Tanah”, penonton segera dibawa pada kesadaran bahwa makanan bukan benda mati. Ia adalah hasil hubungan panjang antara manusia, alam, dan waktu. Ada doa petani di dalamnya. Ada kesabaran musim. Ada rahmat Tuhan yang tidak selalu tampak.

Drama ini bergerak perlahan, seperti musim tanam. Tidak tergesa-gesa. Ia membiarkan penonton mendengar suara air, tanah, dan lesung. Alam tidak hadir sebagai latar, melainkan sebagai tokoh. Tanah berbicara. Air berbicara. Matahari berbicara. Dan manusia tampak kecil di hadapan semesta yang sesungguhnya telah lebih dulu menopang kehidupannya.

Pada Babak “Kelahiran Kamba”, hubungan antara manusia dan alam digambarkan sebagai hubungan yang mulai retak. Tanah mengeluh karena manusia tak lagi memijaknya dengan cinta. Air mulai takut mengering. Matahari mengingatkan bahwa makanan tidak pernah lahir tanpa kerja keras. Ada kritik ekologis di sana, tetapi tidak disampaikan dengan kemarahan. Kritik itu hadir sebagai kesedihan.

Dan memang, dalam banyak karya yang puitik, kesedihan sering lebih tajam daripada amarah.

Kamba sendiri mula-mula hanyalah makhluk kecil yang takut kehilangan. Ketika panen tiba, ia bertanya mengapa dirinya dipisahkan dari tanah. Pertanyaan itu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat manusiawi. Sebab manusia pun selalu takut kehilangan. Kehilangan rumah, kehilangan masa lalu, kehilangan bentuk dirinya sendiri.

Tanah lalu menjawab dengan kalimat yang menjadi salah satu pusat makna drama ini, “hidup bukan hanya tumbuh, tetapi menghidupi.”

Di sana drama ini berubah menjadi refleksi. Bahwa makna hidup ternyata tidak terletak pada seberapa lama seseorang bertahan, melainkan pada seberapa jauh ia berguna bagi kehidupan lain. Kamba harus meninggalkan sawah agar bisa menjadi tenaga bagi manusia. Ia harus kehilangan bentuk agar memperoleh makna.

Babak dapur menjadi ruang transformasi itu. Kamba digiling, direbus, dimasak. Ia merasa dirinya dihancurkan. Tetapi Api menjelaskan bahwa perubahan memang membutuhkan panas. Tidak ada kehidupan tanpa pengorbanan.

Di sini drama tersebut berbicara tentang penderitaan, tetapi bukan penderitaan yang nihil. Penderitaan dipahami sebagai proses pembentukan. Sesuatu yang matang selalu lahir dari proses yang panjang dan kadang menyakitkan. Dalam pengertian tertentu, dapur menjadi metafora kehidupan manusia sendiri, yaitu tempat di mana kehilangan dan harapan dimasak bersamaan.

Lalu drama memasuki bagian yang paling surealis sekaligus paling menarik, yaitu “Perjalanan Dalam Tubuh”.

Tubuh manusia dipentaskan seperti dunia kecil yang rapuh. Ada Lapar. Ada Lemas. Ada Mulut dan Lambung yang menunggu makanan datang. Tubuh manusia ternyata tidak sekuat yang dibayangkan modernitas. Ia bisa runtuh hanya karena tidak ada tenaga.

Dan di situlah Kamba menemukan tujuan hidupnya.

Ia berubah menjadi energi. Menjadi darah. Menjadi kekuatan yang menggerakkan otot dan langkah manusia. Sesuatu yang kecil ternyata mampu menopang kehidupan yang besar. Di sini drama itu seperti ingin mengingatkan bahwa peradaban manusia sesungguhnya berdiri di atas hal-hal sederhana yang sering dilupakan.

Sawah lebih penting daripada gedung-gedung tinggi. Petani lebih menentukan masa depan daripada banyak pidato politik.

Namun Nyanyian Sebutir Kamba tidak berhenti pada soal pangan. Drama ini bergerak lebih jauh menuju persoalan peradaban. Pada babak “Merayakan Warisan Peradaban”, manusia digambarkan menjaga danau, menanam pohon, melantunkan vokal vokal purba, dan menari dalam tradisi.

Di sana tradisi tidak dipahami sebagai benda masa lalu. Tradisi adalah ingatan manusia kepada asal-usulnya. Lagu sawah, bunyi lesung, tarian adat, semuanya menjadi simbol bahwa manusia membutuhkan akar agar tidak tercerabut oleh zaman.

Ada kegelisahan terhadap dunia modern yang kehilangan hubungan dengan alam sekaligus kehilangan hubungan dengan sesama manusia. Karena itu drama ini juga menghadirkan adegan orang sakit yang ditolong bersama-sama. Tubuh yang kuat, kata drama itu, seharusnya menjadi pelindung, bukan penghancur.

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaannya ia menjadi penting di zaman ketika kekuatan sering dipakai untuk menguasai.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan Kamba bermuara pada satu kesadaran : hidup bukan tentang menjadi besar, melainkan menjadi berarti.

Karena itu ending drama ini tidak menghadirkan kemenangan yang gegap-gempita. Yang muncul justru suasana syukur. Perahu-perahu bergerak meninggalkan tepian danau membawa panen, harapan, dan kehidupan yang terus berlanjut. Sebuah penutup yang tenang, tetapi menyisakan gema panjang.

Nyanyian Sebutir Kamba pada dasarnya adalah drama tentang kebermanfaatan. Tentang bagaimana sesuatu yang kecil dapat memberi arti besar bagi kehidupan. Ia mengingatkan bahwa makanan tidak pernah sekadar makanan. Di dalam sebutir nasi ada tanah, air, hujan, tenaga petani, sejarah tradisi, dan masa depan manusia sendiri.

Dan mungkin di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan teknologi, drama ini ingin mengembalikan manusia pada sesuatu yang paling dasar. Rasa syukur.